BRICS – Inheritor of Bandung Non-Aligned Spirit: Brazil’s President

by -119 Views

Pada sesi pertama KTT BRICS ke-17 diadakan di Museum of Modern Art (MAM) di Rio de Janeiro, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan bahwa kelompok BRICS mewakili semangat Konferensi Asia-Afrika sejarah—lebih dikenal sebagai Konferensi Bandung—yang menentang dominasi oleh kekuatan utama dunia. Presiden Indonesia Prabowo Subianto turut hadir dalam pertemuan tersebut, menandai partisipasi Indonesia untuk pertama kalinya sebagai anggota penuh BRICS.

Lula menyatakan bahwa BRICS merupakan manifestasi Gerakan Non-Blok Bandung. BRICS mengusung semangat Bandung,” kata Lula di hadapan kepala negara dan pemerintahan yang hadir. Selama pidatonya, Lula juga menyoroti krisis multilateralisme yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia saat ini.

” Pada 26 Juni, Perserikatan Bangsa-Bangsa berusia 80 tahun, namun kita menyaksikan keruntuhan multilateralisme dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” catatnya. Dia mengingatkan bahwa berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa melambangkan kekalahan fasis dan menjadi mercu suar kolektif harapan bagi umat manusia. Lula juga mencatat bahwa sebagian besar anggota BRICS saat ini adalah di antara penandatangan asli Piagam PBB.

“Sepuluh tahun setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan, Konferensi Bandung menolak membagi dunia menjadi bidang pengaruh dan mempertahankan keteraturan internasional multipolar,” ujarnya. Lula menegaskan tempat BRICS dalam lanskap global kontemporer dalam penutupan pidatonya.

“BRICS adalah pewaris Gerakan Non-Blok,” tegasnya. Indonesia telah menjadi anggota penuh BRICS sejak 1 Januari 2025. KTT ini berfungsi sebagai forum bagi para pemimpin BRICS untuk mengatasi berbagai tantangan politik dan keamanan, termasuk konflik yang berkepanjangan di berbagai wilayah, reformasi lembaga tata pemerintahan global, dan penguatan kerjasama multilateral.

Selain itu, para pemimpin diharapkan membahas isu-isu ekonomi dan keuangan yang mendesak, peluang kerjasama di sektor-sektor baru seperti tata kelola kecerdasan buatan, tindakan iklim dan perlindungan lingkungan, serta kesehatan global.

Source link