Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi perbincangan publik setelah strukturnya ambruk dan menelan korban jiwa. Netizen mulai mempertanyakan arsitektur bangunan tersebut yang terlihat tidak lazim, terutama karena bagian atas bangunan melebar dengan penopang berupa tiang-tiang kecil di bawahnya. Dalam video yang beredar, terlihat bangunan lima lantai tersebut masih memiliki konstruksi lama dua lantai di bagian bawah yang ditambah penyangga baru. Para pakar konstruksi, seperti Mudji Irawan dari Institut Teknologi Sebelas Maret (ITS), mengungkapkan bahwa pola keruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny menunjukkan adanya kegagalan konstruksi yang menyebabkan kesulitan tim penyelamat dalam menjangkau korban yang tertimbun. Evakuasi korban masih berlangsung dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus berupaya menemukan korban yang masih tertimbun. Berbagai upaya dilakukan dengan penggunaan alat berat dan teknologi canggih untuk mempercepat proses pencarian. Semua proses dilakukan dengan hati-hati demi keselamatan korban dan tim penyelamat. Adanya kerjasama antara Basarnas dan BNPB juga memastikan pencarian korban terus berlangsung tanpa henti.
Penyebab Ambruknya Struktur Bangunan Ponpes Al Khoziny: Analisis Pakar ITS





