Ariel NOAH, atau Nazriel Irham, membuka cerita masa kecilnya yang mengejutkan, menjauh dari gambaran tenang yang ia miliki saat ini. Dalam sebuah podcast bersama Ivan Gunawan, Ariel menceritakan bahwa dia dulu adalah anak yang sangat bandel, suka berantem, dan bahkan melakukan bullying kepada teman-temannya. Sifatnya yang temperamental dipengaruhi oleh film aksi yang sering ia tonton, membuatnya tidak sadar bahwa perilakunya melewati batas.
Film-film aksi yang ditonton Ariel membawa pengaruh besar terhadap kebiasaan berkelahi dan kekerasan yang ia tiru. Namun, setelah memahami kesalahannya, Ariel menyadari bahwa masa kecil penuh dengan proses pembelajaran yang berharga. Bakat seni Ariel mulai terlihat meskipun sikap kerasnya, lebih mahir dalam menggambar daripada bernyanyi. Minat terhadap musik mulai berkembang ketika dia berada di SMP dan SMA, di mana pergaulannya di Bandung membentuk jalannya dalam dunia musik.
Perjalanan karier musik Ariel tidak langsung sebagai vokalis, melainkan dari belajar drum dan beralih ke bass. Bersama Qibil dan Erik dari The Changcuters serta Uki, yang kemudian menjadi rekan di NOAH, Ariel memulai langkahnya dalam industri musik. Kisah masa kecil Ariel yang penuh perubahan dan proses panjang tersebut membuktikan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui perjalanan yang penuh tantangan.





