Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sebanyak 692 kepala keluarga terdampak oleh banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Para kepala keluarga ini saat ini masih berada di lokasi pengungsian. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan bahwa pendataan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar dari warga terdampak dan pengungsi terpenuhi.
Banjir bandang tersebut juga mengakibatkan kerusakan signifikan pada permukiman dan fasilitas umum di wilayah terdampak. BNPB mencatat bahwa ada 30 unit rumah yang hilang, 52 unit rumah rusak berat, 29 unit rumah rusak sedang, dan 89 unit rumah rusak ringan akibat banjir bandang. Selain kerusakan pada rumah warga, beberapa fasilitas pendidikan, kantor, dan infrastruktur lainnya juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Beberapa akses jalan di wilayah terdampak juga terputus, dan saat ini dalam proses pendataan dan penanganan lebih lanjut oleh instansi terkait. BNPB siap memberikan pendampingan kepada BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro dan BPBD Provinsi Sulawesi Utara, serta pemerintah daerah lainnya untuk mempercepat penanganan darurat.
Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, mulai dari 5 hingga 18 Januari 2026. Bantuan darurat juga telah disalurkan kepada pengungsi untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat. BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lanjutan serta memastikan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana selama status tanggap darurat masih berlaku.





