Sebagai editor InsideEVs, saya sudah tidak sedekat dulu mengikuti pasar mobil bermesin bensin. Rekan-rekan saya di Motor1 sering bercerita soal kendaraan bermesin pembakaran internal terbaru yang mereka uji, dan reaksi saya kerap: “Wah bagus! Apa itu?” Namun bahkan saya pun kaget saat mengetahui Acura akan menghentikan sementara produksi crossover terlarisnya, RDX.
Seiring dengan berita ini, para dealer merasa kehilangan model yang penting dalam saat yang tidak pasti bagi pasar kendaraan listrik. Hal ini terjadi ketika insentif pajak sebesar US$7.500 masih berlaku dan ditambah dengan peluncuran model listrik RSX yang akan datang.
Para dealer Acura merasa kecewa dengan keputusan perusahaan untuk beralih ke kendaraan listrik. Mereka mempertanyakan keputusan ini di tengah kondisi pasar yang berubah dan kondisi regulasi yang tidak menentu. Namun, sebagian orang berpendapat bahwa memperkenalkan model RSX yang memanfaatkan teknologi baru sangat penting untuk Honda dan Acura.
Di sisi lain, masalah Porsche di Tiongkok semakin memburuk pada tahun 2025. Porsche yang telah merekam tahun rekor di AS tetap mengalami penurunan di Tiongkok karena persaingan yang semakin ketat dan menurunnya kondisi pasar di negara tersebut. Porsche serta merek Jerman lainnya seperti Audi, BMW, dan Mercedes-Benz juga menghadapi tantangan di pasar Tiongkok.
Terakhir, saham otomotif turun akibat isu yang melibatkan Greenland dan ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump. Industri otomotif sangat rentan terhadap perubahan regulasi dan tarif perdagangan, mengakibatkan ketidakpastian bagi perusahaan-perusahaan otomotif dan rantai pasokan mereka.
Dari sini, dapat kita lihat bahwa pabrikan otomotif perlu mempertimbangkan secara cermat komposisi powertrain yang tepat untuk masa depan. Apakah harus tetap menjaga keberagaman powertrain atau beralih sepenuhnya ke listrik, hal ini masih menjadi pertanyaan yang perlu dipertimbangkan secara matang. Jangan sungkan untuk berbagi pendapat Anda di kolom komentar.





