Dawai Cempluk Malang: Sorotan Global dari Milan

by -67 Views

Dawai Cempluk dari Malang Jadi Sorotan Global

Sebuah alat musik petik asli karya warga Kampung Cempluk, Dau, Kabupaten Malang, yang bernama Dawai Cempluk, berhasil mencuri perhatian publik internasional setelah diperkenalkan dalam forum akademik di aula Casa della Cultura, Milan, Italia, pada Senin (15/6/2026) waktu setempat.

Ini merupakan hasil dari kolaborasi strategis antara Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) dengan Tommaso Corradi, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Bicocca, Milan, yang melakukan penelitian lapangan di Malang akhir tahun lalu. Riset etnografi visual tersebut mengusung tema “Antropologia visiva nella Giava contemporanea” (Antropologi Visual di Jawa Kontemporer).

Inspirasi Dari Limbah Kayu

Dawai Cempluk lahir dari inisiatif Pak Budi Ayin, seorang pengrajin kayu asli Kampung Cempluk. Kampung ini juga dikenal sebagai “kampung tukang”, dimana sebagian warganya bekerja sebagai pengrajin kayu atau kuli bangunan.

Melihat banyaknya limbah kayu konstruksi yang terbuang, Budi Ayin memiliki naluri dan talenta desain yang luar biasa. Dengan keterampilannya, ia mengubah sampah kayu tersebut menjadi instrumen musik petik yang estetis.

Kesuksesan Gotong Royong

Dalam acara tersebut, adik Tommaso, Daniele Corradi, mengaku kagum dengan kerja sama yang terjalin antara Budi Ayin dan warga setempat dalam menciptakan karya yang spektakuler dengan peralatan yang sederhana.

Selain itu, proyek kebudayaan ini juga memberikan gambaran tentang gotong royong, dimana pembuatan Dawai Cempluk melibatkan berbagai pihak, mulai dari Budi Ayin, warga lokal lain, hingga para akademisi seperti Dr. Redy Eko Prastyo dari Fakultas Vokasi UB.

Keberhasilan Dawai Cempluk ini juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan UB, Prof. Widodo, dan Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, yang siap memfasilitasi agar potensi lokal dapat meraih pencapaian global.

Dawai Cempluk bahkan diajukan sebagai bagian dari program ekonomi kreatif Malang, menegaskan bahwa dari bahan limbah sederhana, dengan kerja sama dan riset yang tepat, dapat lahir karya inovatif yang membawa dialog kebudayaan Indonesia ke dunia internasional.

Source link