Gus Miftah: Kiai Imam Jazuli Bukan Sekedar Alternatif, tapi Kebutuhan Mutlak Kepemimpinan NU Abad Kedua
Sabtu, 18 Juli 2026 – 23:51 WIB
Persiapan Muktamar NU ke-35
Mendekati pelaksanaan muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, perebutan kursi calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin sengit.
Kriteria Calon Ketua Umum NU
KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, menyebutkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh calon Ketua Umum PBNU untuk menghadapi tantangan di era kedua NU. NU sekarang tidak hanya dihadapkan pada masalah tradisional keumatan, tetapi juga dituntut untuk menanggapi tantangan globalisasi, transformasi digital, penguatan ekonomi masyarakat, dan diplomasi internasional.
Menurut Gus Miftah, NU membutuhkan pemimpin dengan kemampuan multidimensional, yang harus kuat pada akar tradisi pesantren dan dapat membawa NU bersaing di tingkat global.
Mengevaluasi Calon Pemimpin NU
Gus Miftah menyoroti beberapa nama yang muncul sebagai calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar NU ke-35. Salah satu nama yang dianggap memiliki keunggulan relevan untuk memimpin NU saat ini adalah KH Imam Jazuli.
Menurut Gus Miftah, latar belakang KH Imam Jazuli memiliki sejumlah keunggulan yang dibutuhkan NU sekarang. Kiai Imjaz, panggilan akrabnya, adalah sosok pengasuh pesantren (Bina Insan Mulia) yang juga berpendidikan luar negeri di bidang filsafat, politik, pertahanan, dan strategi. Gus Miftah menilai bahwa NU memerlukan sosok seperti Kiai Imam Jazuli untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Enam Kriteria Pemimpin NU
Berdasarkan pendapat Gus Miftah, terdapat enam kriteria utama yang harus dimiliki oleh calon Ketua Umum PBNU selanjutnya. Salah satunya adalah berasal dari kalangan pengasuh pesantren, karena pesantren adalah tempat lahirnya nilai-nilai yang membentuk karakter NU sejak awal berdiri.
Melihat tantangan yang semakin kompleks di era kedua NU, NU memerlukan pemimpin yang tidak hanya berwawasan tradisional, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang perkembangan global. Figur seperti Kiai Imam Jazuli dianggap sebagai kebutuhan mutlak bagi NU untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi saat ini.





