Krakatoa The Last Days: Film Dokumenter Letusan Krakatau 1883

by -77 Views

Mengulik Letusan Krakatau: Fakta Mengerikan dan Kisah Film Bernuansa Sejarah

Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan utama setelah mengalami erupsi sejak Sabtu (5/9/2026), mengganggu sejumlah jalur transportasi di sekitarnya. Abu vulkaniknya mendorong warga Jawa Barat, Lampung, dan sekitarnya untuk menggunakan masker pelindung.

Keganasan Gunung Anak Krakatau

Situs ini bukan kali pertama terjadi gejolak alam. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menunjukkan Anak Krakatau tetap aktif selama lima tahun terakhir, berada di Level III (siaga). Letusan terjadi pada 4 hingga 5 September 2026, terdengar suara gemuruh dan lontaran lava pijar mengguncang sekitar.

Anak Krakatau, seperti namanya, merupakan gunung berasal dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Kengerian dari letusan Krakatau menginspirasi pembuatan film dokumenter Krakatoa The Last Days, disutradarai Bernard L. Kowalski yang merilisnya pada tahun 1968.

Perjalanan Kapal Menuju Krakatau

Film ini memperlihatkan romansa di balik perekasaan sekelompok awak kapal yang berusaha menyelamatkan penumpang kapal mereka di tengah letusan Krakatau. Dimulai dari pencarian kapal karam di Selat Sunda, petualangan mereka berubah menjadi perjuangan melawan gelombang laut, lontaran lahar, dan amukan alam yang tak terkendali.

Kisah dramatis ini diperankan oleh Maximilian Schell, Diane Baker, dan Brian Keith. Krakatoa The Last Days dapat dinikmati melalui layanan streaming seperti Netflix atau dalam arsip BBC di YouTube.

Note: Ketersediaan wilayah dapat berubah

Fakta Mengerikan dari Letusan Krakatau

Gunung Krakatau, yang tadinya berdiri setinggi 813 meter di perairan Selat Sunda, meletus dengan kekuatan luar biasa pada Oktober 1883. Letusan ini menghasilkan ledakan setara dengan 200 megaton TNT, dengan suara meledak terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya.

Letusan tersebut menyebabkan tsunami setinggi 40 meter yang melanda Banten, Lampung, dan sekitarnya, menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Dampak global dari letusan tersebut juga terasa, dengan abu vulkanik yang menyelimuti atmosfir dan menghasilkan langit yang gelap selama beberapa hari.

Lebih dari 70% pulau hancur akibat letusan tersebut, dan di tahun 1972 muncullah Anak Krakatau yang kita kenal saat ini.

Source link