Indonesia Bangun SDM Siber untuk Hadapi Ekosistem Digital Global

by -137 Views

Isu keamanan di dunia maya menjadi semakin krusial seiring berkembangnya teknologi digital. Dalam sebuah konferensi internasional mahasiswa pascasarjana Hubungan Internasional di Universitas Indonesia pada 23–24 Oktober 2025, Dr. Sulistyo selaku Deputi BSSN mengungkapkan perspektif baru mengenai arti strategis ruang siber untuk negara-negara di dunia. Ia menyoroti bahwa ruang siber berbeda drastis dari domain fisik seperti darat, laut, maupun udara karena tidak mengenal batas wilayah dan tidak tunduk pada satu otoritas global. Realitas tanpa batas geografis ini menjadikan ruang siber sebagai wilayah strategis sekaligus tantangan utama dalam menjaga keamanan negara.

Dr. Sulistyo menjabarkan bahwa dunia siber kini telah menjadi lebih dari sekadar infrastruktur internet atau teknologi digital. Ruang siber adalah arena yang secara langsung berimbas pada stabilitas nasional maupun internasional, karena serangan bisa terjadi kapan pun, dari mana pun, dan dapat menargetkan aktor mana saja—baik individu, lembaga pemerintah, ataupun sektor swasta di berbagai negara. Ia menekankan bahwa prinsip kedaulatan negara harus diredefinisi dalam konteks digital, karena batas negara dapat dengan mudah ditembus tanpa melibatkan kekuatan fisik.

Serangan siber pada infrastruktur penting dan penyebaran hoaks atau manipulasi data semakin mempertegas bahwa penegakan hukum di ruang tanpa batas menjadi tantangan besar. Sulitnya mengidentifikasi pelaku serta menetapkan jurisdiksi hukum menuntut inovasi tersendiri dalam kebijakan keamanan nasional. Tidak hanya negara, aktor non-negara seperti kelompok kriminal maupun pihak yang didukung negara lain kini lebih leluasa melakukan operasi lintas batas tanpa harus melewati kontrol perbatasan fisik.

Perubahan ini mengharuskan negara untuk menyiapkan strategi pertahanan baru. Konflik di dunia maya bisa terjadi tanpa adanya pengumuman perang atau pengerahan militer, namun mampu memicu dampak berantai pada perekonomian, sistem politik, hingga stabilitas kawasan. Rivalitas antara kekuatan dunia semakin beralih ke persaingan teknologi informasi, kecerdasan buatan, serta penguasaan jaringan komunikasi generasi terkini. Penguasaan atas teknologi siber menjadi salah satu tolok ukur kekuatan negara di panggung geopolitik modern.

Indonesia, menurut Dr. Sulistyo, telah aktif memperkuat diplomasi dunia maya dengan tetap menjunjung prinsip bebas-aktif dalam politik luar negeri. Menghadapi tantangan ini, Indonesia tidak tinggal diam, melainkan memprakarsai berbagai inisiatif melalui forum seperti ASEAN, PBB, serta berbagai rezim kerja sama internasional. Upaya tersebut meliputi pembentukan norma global perilaku negara di dunia digital, mekanisme membangun rasa saling percaya, hingga kolaborasi penanganan insiden siber lintas negara.

Penguatan ketahanan siber nasional menjadi agenda utama. Dr. Sulistyo menekankan pentingnya membangun kapasitas pertahanan siber melalui modernisasi infrastruktur digital dan pembentukan kerangka kebijakan yang adaptif. Ia juga menekankan bahwa tidak ada negara yang dapat menjaga keamanan siber sendirian, sehingga kolaborasi internasional adalah kunci, dengan penekanan pada pengembangan SDM yang andal dan siap bersaing secara global. Peningkatan kemampuan teknis dan edukasi masyarakat untuk mengantisipasi ancaman menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia.

Ia menutup dengan pesan bahwa keamanan di dunia digital hakikatnya merupakan bagian integral dari keamanan antarnegara masa kini. Dalam suasana tanpa batas geografis, keamanan suatu negara saling berkaitan erat dengan keamanan negara lain, sehingga solidaritas, kesiapsiagaan, dan kolaborasi global harus menjadi prioritas bersama.

Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia