Cyber Warfare Modern Didominasi Sistem AI Generatif

by -129 Views

Dalam era digital yang terus berkembang pesat, urgensi menghadapi kecanggihan kecerdasan buatan (AI), dinamika geopolitik, dan resiko siber menjadi topik penting dalam berbagai forum akademis. Pada tanggal 23–24 Oktober 2025, Universitas Indonesia, melalui Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional, menggelar International Postgraduate Student Conference (IPGSC). Salah satu sorotan dalam konferensi ini adalah pidato kunci dari Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, yang berbicara mewakili Menteri Komunikasi dan Digital. Ia membedah sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah transformasi digital dan perubahan ekosistem kekuatan global.

Raden Wijaya menyoroti bahwa hari ini, dunia sedang bergerak dari era berbasis sumber daya alam menuju dominasi data dan algoritma, di mana teknologi digital menjadi pondasi utama dalam pertarungan kekuatan negara. Di samping mendorong berbagai inovasi sosial dan ekonomi, kecerdasan buatan kini juga mengakselerasi konfigurasi ulang pengaruh dan aliansi internasional.

Fenomena Global: Kompetisi Teknologi dan AI

Ia mengungkapkan bahwa munculnya DeepSeek dari Tiongkok telah menjadi penanda penting dalam arsitektur kompetisi teknologi global. Meski hanya didukung investasi sekitar 6,5 juta USD, DeepSeek sukses mendisrupsi valuasi pasar AI global dari satu miliar dolar menjadi 969 juta dolar. Hal ini menggambarkan betapa ekosistem teknologi bergerak cepat, saling bersaing ketat, dan mudah berubah, sehingga tak satu pun negara boleh lengah.

Terkait geopolitik, Raden Wijaya juga menegaskan bahwa konflik-konflik besar seperti Iran–Israel maupun perang Rusia–Ukraina menunjukkan lonjakan penggunaan kecerdasan buatan dalam bidang pertahanan, pengintaian, dan persenjataan cerdas. Dengan adanya keterkaitan erat antara AI, industri microchip, serta peluang untuk menentukan standar global oleh negara pemilik teknologi, isu dual-use dan potensi ketergantungan menjadi sangat strategis. Inilah dasar mengapa AI dipandang sebagai alat penting perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan dunia.

Wajah Baru Ancaman Siber: Kompleks, Flexibel, dan Terglobalisasi

Dalam paparannya, Raden Wijaya menekankan bahwa ancaman siber sudah melewati batas negara, bersifat multifungsi (dual-use), dan semakin rumit dari waktu ke waktu. Teknologi yang semula didesain untuk memajukan masyarakat, kini mudah berubah fungsi menjadi instrumen serangan oleh negara maupun kelompok tak berdaulat.

Pertama, peran dual-use AI tidak bisa diabaikan. Infrastruktur digital, aplikasi berbasis cloud, algoritma, hingga perangkat lunak sipil, seluruhnya berpotensi untuk disalahgunakan dengan cara meretas jaringan, mengacaukan data, maupun melakukan penyadapan lewat operasi intelijen tingkat lanjut. Bukan hanya negara, kelompok peretas dan organisasi kriminal siber juga bisa melancarkan aksi sabotase ke sistem layanan publik dan data vital.

Kedua, karakter asimetris dari serangan siber memperlihatkan bahwa serangan dapat dilakukan baik oleh negara berkekuatan besar dengan akurasi tinggi, maupun oleh kelompok kecil dengan modal terbatas yang memanfaatkan celah-celah keamanan atau menggunakan malware. Inilah sebabnya, dunia maya berubah menjadi ajang pertempuran terbuka yang mustahil didominasi oleh satu aktor saja.

Ketiga, ada tantangan serius dalam menentukan pelaku serangan karena operasi biasanya dijalankan secara tersembunyi melalui grup pihak ketiga, konsultan teknologi, atau elemen kriminal profesional, sehingga sulit melakukan atribusi langsung terhadap negara tertentu. Peran AI semakin memperumit masalah ini, karena serangan dapat diotomasi, konten palsu diproduksi massal, dan kelemahan sistem dicari dengan teknologi paling mutakhir.

Keempat, AI generatif menjadi alat ampuh penyebar disinformasi, propaganda, dan manipulasi opini publik, baik untuk kepentingan geopolitik negara maupun agenda kelompok non-negara. Serangan-serangan ini secara langsung mengancam kestabilan politik, kepercayaan masyarakat, dan citra institusi pemerintahan.

Berdasarkan pemaparan tersebut, Raden Wijaya menilai bahwa ancaman siber telah berkembang menjadi krisis strategis yang dapat menggerogoti kedaulatan digital, keamanan nasional, dan tatanan politik Indonesia. Ia menyerukan agar Indonesia memperkokoh sistem keamanan siber, merancang strategi deteksi dan pencegahan handal, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia digital yang mumpuni agar mampu menjaga kendali atas teknologi yang semakin terbenam dalam kehidupan rakyat.

Menjawab Tantangan: Membangun Kedaulatan Digital Indonesia

Pada bagian akhir pidatonya di konferensi, Raden Wijaya menekankan pentingnya menghadirkan strategi digital nasional yang komprehensif. Ia tidak hanya bicara pentingnya inovasi, namun juga kesadaran keamanan siber sebagai pondasi utama kedaulatan negara. Investasi jangka panjang di bidang riset AI, pengembangan talenta digital, peningkatan infrastruktur mikroprosesor, dan proteksi terhadap jaringan penting negara disebut harus menjadi prioritas.

Baginya, era masa depan tidak cukup dijawab hanya dengan kepemilikan teknologi tercanggih, melainkan dengan kemampuan untuk menjaga, mengelola, dan memanfaatkan teknologi demi kepentingan bangsa dan pertahanan negara. Indonesia harus menjadi negara yang tidak hanya ramah inovasi, tetapi juga tangguh dalam perlindungan kedaulatan digitalnya di tengah sengitnya persaingan AI global.

Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global