Presiden RI Prabowo Subianto menekankan peran strategis Indonesia dalam perdagangan energi di kawasan Asia Timur. Dalam Rapat Kerja (Raker) Pemerintah di Jakarta Pusat, Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi faktor kunci dalam aliran perdagangan energi di kawasan tersebut. Lebar Selat Hormuz yang hanya 33 mil atau sekitar 60 kilometer di Timur Tengah dianggap sebagai penentu nasib suatu negara. Namun demikian, Indonesia juga memiliki peran signifikan dalam perdagangan, sekitar 70 persen perdagangan energi Asia Timur melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.
Prabowo menyoroti fakta bahwa sekitar 70 persen kebutuhan energi Asia Timur dan perdagangan laut melewati perairan Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian bagi negara-negara seperti Korea, Jepang, Taiwan, China, dan Filipina. Dalam konteks tersebut, Prabowo menekankan pentingnya Indonesia dalam konteks perdagangan energi global. Dengan kondisi geografis yang dimilikinya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memengaruhi dan mengatur arus perdagangan energi di kawasan tersebut.
Dalam rapat kerja tersebut, Prabowo mendorong para menteri dan pejabat eselon I serta direktur utama BUMN untuk memberikan yang terbaik dalam menjalankan tugas mereka. Semua pihak diharapkan dapat memimpin dan berkontribusi secara positif bagi bangsa Indonesia. Prabowo menekankan pentingnya kerja sama dan tanggung jawab dalam memimpin negara ini dengan baik, akurat, dan andal. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran Indonesia dalam kancah internasional, khususnya dalam perdagangan energi di Asia Timur.





