Yasser Arafat selama puluhan tahun adalah figur ikonik bagi bangsa Palestina yang hidup dalam pusaran pelarian dan konspirasi. Hidupnya diwarnai serangkaian perpindahan dramatis, mulai dari Amman ke Beirut lalu ke Tunis, sampai akhirnya terkepung di Ramallah. Semua langkahnya bukan hanya untuk menghindari serangan militer atau operasi intelijen Israel, tetapi juga untuk memastikan perjuangan Palestina tetap hidup di tengah sorotan dunia.
Keberhasilan Arafat bertahan dan terus memimpin perjuangan rakyat Palestina membuat dirinya menjadi sosok yang membingungkan sekaligus menginspirasi di mata banyak pihak. Dalam sejumlah kajian, seperti yang dijelaskan Rubin dan Rubin, perjalanan Arafat bahkan disamakan dengan sebuah odyssey: petualangan besar yang penuh tantangan dan misteri. Karena itulah, tidak heran jika banyak deskripsi yang menempel pada Arafat seperti “penuh misteri”, “mitos”, hingga “sulit dijelaskan”.
Said Aburish dalam studinya menyebutkan bahwa sosok Arafat tumbuh dan bergerak di antara propaganda yang saling berlawanan, isu-isu sensitif, dan medan narasi yang tak pernah henti dipertarungkan. Ia sadar betul, inti perjuangan bangsa Palestina bukan sekadar memperebutkan wilayah, tetapi mempertahankan eksistensi bahkan identitas kolektif yang hampir saja hilang. Dalam wawancaranya pada tahun 1982, Arafat menegaskan bahwa bangsa Palestina menghadapi risiko pemusnahan identitas nasional secara sistematis.
Berkat posisinya di Fatah hingga ke PLO, Arafat berhasil mengubah nasib bangsanya dari komunitas pengungsi menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan dunia internasional. Ia aktif membawa isu Palestina ke berbagai forum global, menjadikannya bagian dari deretan perjuangan antikolonialisme yang berkumandang pada era pasca-perang dunia. Walau PLO sempat mengalami kekalahan di Lebanon dan Yordania, posisi Arafat sebagai simbol perlawanan tak tergeserkan.
Ketahanan Arafat menghadapi krisis sekaligus menjadikan dirinya figur yang sarat paradoks: sosok revolusioner bagi sebagian orang, tapi juga dianggap problematis oleh yang lain. Dalam balutan propaganda, ia bahkan jadi objek serangan psikologis, tak hanya secara militer. Salah satu isu yang sempat dihembuskan adalah tentang kehidupan pribadinya, termasuk rumor mengenai orientasi seksual dan tuduhan penyakit AIDS. Investigasi dan testimoni berbagai pihak, seperti ditulis Al Jazeera dan tokoh Israel Uri Avnery, mengungkap bahwa isu tersebut merupakan bagian dari propaganda yang tidak berbukti.
Bassam Abu Sharif, yang lama mendampingi Arafat, menolak tegas gosip tersebut. Ia menulis bahwa kehidupan Arafat jauh dari tuduhan yang disebarluaskan oleh musuh-musuh politiknya. Serangan pribadi semacam ini lebih merupakan upaya mendeligitimasi simbol nasional Palestina lewat aspek personal yang sulit dibuktikan secara medis maupun historis.
Kisah Arafat tak lekang dari misteri bahkan setelah kematiannya. Pada akhir 2004, Arafat menderita penyakit mendadak dengan gejala yang ganjil—suatu kondisi yang tak pernah sepenuhnya dijelaskan kepada publik. Tidak adanya autopsi menambah panjang daftar kecurigaan. Bertahun-tahun sesudahnya, hasil penelitian forensik di Swiss memang menemukan zat polonium yang tinggi dalam sampel tubuh Arafat, tapi tidak dapat mengonfirmasi secara pasti siapa pelakunya atau apa motif di balik kematiannya. Dugaan peracunan tetap berkembang, mengaitkan kasus Arafat dengan sejarah operasi intelijen di kawasan.
Orang-orang terdekat Arafat, termasuk Bassam Abu Sharif, langsung teringat pada pembunuhan aktivis Palestina lainnya yang diyakini dilakukan Mossad. Situasi yang mengepung hidup Arafat—dunia konspirasi, infiltrasi, dan intrik politik—membuat kematian misteriusnya seolah menjadi kelanjutan dari drama politik yang selalu mengiringinya. Tidak mengherankan jika tafsir atas Arafat terus diperdebatkan, bahkan setelah ia wafat.
Arafat bukan semata pelopor perjuangan bersenjata. Ia juga arsitek utama pembentukan kembali identitas nasional bangsa Palestina, sebagaimana ia sebutkan—memulihkan Palestina di benak dan lembaga negara lewat payung PLO. Bagi Arafat, inti perjuangan bukan saja terletak pada wilayah fisik, tetapi juga pada pemulihan ingatan bersama, identitas politik, dan hak eksistensi rakyat Palestina di mata dunia.
Karena itu, sosok Arafat tetap menjadi objek perebutan narasi. Reputasi, identitas seksual, bahkan kematian misteriusnya terus dijadikan bagian dari perang propaganda yang belum usai hingga kini. Ada yang melihatnya sosok pahlawan perlawanan, ada juga yang menuduhnya sebagai penebar jalan buntu Oslo. Namun, di balik semua label dan kontroversi, sejarah telah mencatat posisinya sebagai tokoh kunci dalam babak panjang perjuangan Palestina dan politik Timur Tengah modern.
Kisah Arafat mengingatkan kita bahwa perjuangan belum selesai selagi simbol yang diperjuangkan masih hidup dalam ingatan dan perdebatan. Nama, kisah, dan kematian Arafat selalu menjadi bayang-bayang di tengah pertanyaan abadi: akankah persoalan Palestina benar-benar menemukan akhir?
Sumber: Yasser Arafat: Simbol Palestina Di Tengah Mitos, Propaganda, Dan Misteri Kematian
Sumber: Yasser Arafat Dan Politik Mitos





