Basarnas menyiapkan kendaraan bawah air tanpa awak atau Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk membantu mencari 125 orang yang belum ditemukan setelah kecelakaan KM Virgo Transport 8. Perangkat ini diharapkan dapat memeriksa bagian dalam bangkai kapal yang sulit dijangkau penyelam.
Hingga Senin, 21 September 2026, sebanyak 118 orang telah ditemukan. Dari jumlah itu, 108 orang dinyatakan selamat, sedangkan 10 lainnya meninggal dunia. Data manifes mencatat total 243 orang berada dalam kapal yang berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 12 September 2026.
Arus laut menghambat penggunaan ROV
Pengoperasian ROV belum dapat dilakukan secara maksimal. Arus laut yang sangat kencang memaksa tim SAR mengangkat kembali alat tersebut setelah sempat diturunkan ke lokasi bangkai kapal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan, kondisi perairan menjadi kendala utama dalam penggunaan ROV. Menurut dia, perangkat itu sebenarnya telah dicoba sejak awal, tetapi kekuatan arus membuat pemeriksaan bawah air tidak berjalan sesuai rencana.
“Di awal kami menurunkan ROV, namun karena arus lautnya yang sangat kencang sehingga peralatan yang canggih itu tidak bisa dimaksimalkan, akhirnya diputuskan untuk diangkat kembali,” kata Putu, dikutip Senin.
Basarnas masih menunggu kondisi cuaca dan arus membaik agar ROV dapat kembali dikerahkan. Sebelum penyelam masuk, alat itu akan diarahkan untuk menyusuri bagian-bagian kapal yang sulit dijangkau secara langsung.
Hasil pemantauan menjadi panduan penyelam
Tim SAR telah memiliki rancang bangun KM Virgo Transport 8. Informasi tersebut digunakan untuk memetakan akses yang dapat dimasuki ROV, termasuk lorong-lorong kecil di dalam badan kapal.
Putu menjelaskan, ROV akan diturunkan lebih dulu untuk memberikan gambaran mengenai kondisi interior kapal. Pemantauan itu diharapkan membantu tim menentukan jalur pemeriksaan dan lokasi yang dapat dijangkau saat proses evakuasi berlangsung.
“ROV kita turunkan lebih awal, bisa menjangkau semua lorong-lorong kecil yang ada di kapal, karena rancang bangun kapal itu sudah kita dapatkan sehingga di mana akses-akses yang bisa dimasuki oleh ROV,” ujarnya.
Rekaman dan informasi dari kendaraan bawah air tersebut selanjutnya akan menjadi acuan bagi penyelam Basarnas. Dengan panduan itu, penyelam dapat menyusun langkah penyisiran sebelum melakukan evakuasi korban di dalam kapal.
“Nah itulah yang akan kita manfaatkan ya sebagai guiding awal sebelum nanti tim penyelam berdasarkan hasil pantauan ROV itulah nanti tim penyelam akan melaksanakan proses evakuasi di dalam kapal ya,” tutur Putu.





