Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini mengungkapkan hasil dari pemetaan yang dilakukan di tiga wilayah di Indonesia, dimana lebih dari 4.700 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) ditemukan telah menyebabkan gangguan kesehatan pada siswa. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa meskipun BGN telah menyediakan satu miliar porsi makan, namun masih terdapat kasus gangguan kesehatan yang disesalkan. Untuk mengatasi masalah ini, BGN terus memperketat mekanisme yang ada.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Dadan Hindayana juga mengungkap bahwa beberapa siswa SMK di Bandung diduga mengalami keracunan akibat MBG. Ia menekankan pentingnya bagi setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memulai dengan jumlah kecil guna mencegah kasus keracunan atau gangguan kesehatan. Selain itu, Dadan juga mengingatkan bahwa kejadian gangguan kesehatan sering kali terjadi karena munculnya SPPG baru yang membutuhkan pembiasaan.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kasus gangguan kesehatan tersebar di beberapa wilayah, dengan Pulau Jawa menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. Dadan Hindayana menyarankan agar para SPPG benar-benar memperhatikan pengelolaan bahan makanan, terutama saat mengganti pemasok. Hal ini penting untuk mencegah kasus seperti yang terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Selatan, dimana ratusan orang mengalami gangguan kesehatan akibat pengolahan ikan yang kurang benar.
Dalam upaya pencegahan, Dadan Hindayana juga mengingatkan bahwa pengelolaan bahan makanan harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Kejadian di Banggai memperlihatkan bahwa terdapat risiko alergi dan bahkan dampak yang fatal jika pengolahan makanan tidak dilakukan dengan benar. Upaya preventif ini diharapkan dapat mengurangi kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan yang kurang benar.





