Ray Rangkuti: Reformasi TNI Mengalami Kemunduran
Direktur LIMA: Fokus Profesionalisme TNI Kehilangan Arah
Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, menganggap bahwa upaya mengembalikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke fungsi profesional pertahanan negara, yang menjadi salah satu agenda penting Reformasi 1998, saat ini mengalami kemunduran.
Menjaga Integritas Profesionalisme TNI
Ray menyampaikan pandangannya dalam diskusi publik di Jakarta, dimana ia merasa bahwa pentingnya TNI kembali ke esensi sebagai tentara profesional telah terdistorsi seiring waktu. Membawa TNI kembali ke barak adalah simbol penting untuk memastikan fokusnya sebagai lembaga pertahanan yang terpisah dari ranah sipil.
Tonggak Penting Reformasi Keamanan
Ditegaskan bahwa masa pemisahan TNI dan Polri di era Presiden Megawati Soekarnoputri adalah langkah penting dalam reformasi sektor keamanan. Pemisahan ini memungkinkan kedua institusi berfokus pada fungsi masing-masing, dengan TNI bertugas di bidang pertahanan dan Polri di bidang keamanan sipil, tanpa lagi memperlihatkan kepemilikan alat.
Ray menilai bahwa lawasnya UU TNI memberikan kerangka yang memadai untuk membatasi keterlibatan TNI di bidang sipil hanya melalui skema OMSP di kondisi-kondisi khusus, seperti bencana dan pemberantasan terorisme. Hal ini telah dipatuhi dengan ketat selama puluhan tahun untuk menjaga fokus utama TNI pada pertahanan negara.





